sudutruang-rangipang

Wednesday, April 05, 2006

menciptakan atmosfir

kadang gw ketemu orang dalam suasana yang begitu tenang, damai, berjalan apa adanya. kadang juga ketemu orang suasana serba basa basi, canggung, dan tidak adanya ketulusan dalam tegur sapa. kadang juga bertemu dalam suasana yang begitu kacau, ribet, semrautan dan serba tergesa-gesa dan tertekan. gw selalu bertanya, kenapa kita bisa dihadapkan dengan situasi seperti itu, apa ini pilihan? apa kita harus pasrah menerima? siapa yang mengatur semua ini? suatu hari gw pernah ngumpul, bersama teman, saat itu situasinya lagi enak bgt. tiba-tiba datanglah seseorang. dan anehnya orang ini bisa mengubah suasana yang tadinya enak menjadi gak enak. gw akan menyebutnya itu sebagai atmosfir. dimana ketika orang itu datang, tiba-tiba atmosfir disekeliling kita seketika berubah dengan tutur kata dan tingkah lakunya. ada pula situasi dimana kita lagi garing berat dan mati gaya, tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan suasana berubah menjadi begitu menyenangkan, atmosfir seketika berubah. gw pikir sebenarnya suasana bisa dibentuk, dan kita tidak bisa pasrah dengan keadaan. gw melihat seseorang yang menciptakan atmosfir yang baik, terpancar dari pola pikir dan tingkah laku dia sehari-hari. setiap orang senang bertemu dengannya. dia seperti tidak menyimpan kebencian terhadap seseorang, dia tidak ingin berusaha tampil, pamer, bahkan tidak ingin menunjukan status dan kekuasaannya, dia menghargai orang lain. dia tampil apa adanya, dia bisa menempatkan diri dengan lingkungan. namun sebaliknya orang yang menciptakan atmosfir yang tidak enak, juga terpancar dari tingkah lakunya, yang gw liat dia itu selalu ingin menonjol, ingin menjadi pusat perhatian, ingin selalu diketahui statusnya, dan yang lebih parah lagi dia senang kalo orang tertekan karena kekuasaanya, dia tidak bisa dan tidak mau menghargai orang lain yang dianggap levelnya dibawah dia, gw pikir berarti atmosfir bisa kita ciptakan, tergantung pada pilihan apakah kita akan membawa ke suasana yang nyaman atau tidak. dan menciptakan atmosfir itu menurut gw harus di mulai dari diri sendiri, salah satunya berpikiran positif, mengeluarkan kata-kata yang baik, bersahaja, menghargai orang lain dan yang lebih penting lagi menurut gw adalah, dekat dengan yang di atas, moga-moga aja dari pelajaran yang gw dapat, gw berusaha menjadi orang yang bisa menciptakan atmosfir yang baik buat lingkungan sekeliling gw......

Wednesday, March 29, 2006

syukur syukur syukur

hari itu gw lagi berkunjung ke keluarga besar dayak di muwardi grogol, seperti biasa, kesederhanaan, ramah tamah dan rasa kekeluargaan begitu erat selalu menyelimuti. Setelah memainkan beberapa lagu tembang kenangan, maklum mereka rata2 adalah bapak-bapak dan anak muda yang tidak terlalu up grade ama lagu jaman sekarang, sambil menikmati kopi dan arak khas kalimantan dan sedikit makanan ringan yang kita beli dari pedagang yang lewat, semua berbaur dalam canda dan tawa. Disela-sela suasana yang ramai, tiba-tiba seorang bapak berbicara kepada saya dalam keadaan muka merah karena arak dan mata agak gantung, "Den, kau tau artinya nikmat hidup.....? sambil megang gitar dan sedikit memetik nada, gw coba mendengarkan dengan seksama bapak tersebut. "orang seperti saya adalah orang yang paling menikmati hidup" lanjutnya. "bayangkan den saya tadi makan hanya mengeluarkan uang 3.000 perak, tapi saya bisa merasa nikmat yang luar biasa, dan sama nikmatnya seperti orang yang makan dengan biaya 50.000, dan nanti saya akan tidur di atas kasur kapuk, dan saya merasakan nikmat seperti orang yang tidur di hotel bintang lima...." tatapannya masih lurus ke mata gw, seakan-akan ingin menunjukan kejujurannya dan bukan hanya omongan semata. "kenapa bisa begitu Om ?" tanya gw untuk menghagatkan pembicaraan bapak tadi. Langsung aja dia menjawab, "karena saya menikmati "syukur" yang Tuhan kasi ke saya. Apa pun bentuknya saya mencoba berterima kasih dan mensyukuri apa yang saya dapat hari ini. Sebab dengan mengucap syukur, apa yang kita dapat semuanya menjadi nikmat". Gw tertegun sejenak, mencoba mencerna arti kata syukur tadi....... Sampai hari ini pun gw tetap mencerna arti kata "syukur". Dengan mengerti kata tersebut, kita tidak menjadi orang yang iri hati, dengki, penuh ambisi, seperti sosok bapak tadi, dan setiap saat gw selalu mengingat kata tersebut, untuk meredam segala kemauan dunia gw, yang gak ada cukupnya. Kata syukur dari masih kecil udah sering terdengar, namun hanya ucapan untuk mengolok orang lain "syukur, rasain lu....biar mampus". Itulah pengertian kata syukur waktu gw masih kecil. Namun sebenarnya kata "syukur" mempunyai kekutan yang besar bukan hanya segi filosofisnya saja, tapi dari segi prakteknya juga membawa pengaruh yang cukup besar, jika mau mengucapkan syukur dengan jujur dan kerendahan hati, seperti bapak yang agak mabok tadi............hiks.... hiks..... hiks....

Thursday, March 23, 2006

durian dan pemakan durian

karya seni kadang seperti buah durian.....dimana kita tidak tau bagaimana sebuah durian bisa sampai dijual, tentunya durian tersebut melewati berbagai proses, mulai dari berbunga, tumbuh menjadi durian kecil dan menjadi besar, belum lagi durian tersebut harus bertahan dari cuaca dan hewan pemangsa buah, hingga akhirnya dia jatuh saat matang, dan saat jatuhpun dia tidak boleh pecah, dan akhirnya dia bisa dijual untuk dinikmati. Suatu saat waktu gw makan durian yang udah dipilih, gw buka dan gw nikmati dengan berbagai penilaian, "hmm.....dagingnya tipis.....ah asem.....kok gak wangi.......wah tebel juga isinya......yang ini manis .....yah busuk......ah gak mateng nih.....ya ampun....bijinya gede-gede, apa yang mau dimakan....? ini sih buat nimpukin maling aja bijinya....". Begitulah penilaian demi penilaian yang gw lontarkan terhadap durian-durian yang gw makan. Dengan gampang dan berasa seorang ahli gw memberikan penilaian-penilaian. Mendamprat, mengomel, senang, puas yah itulah segala bentuk penilaian gw terhadap duirian-durian tadi. Yang mana gw gak pernah berfikir proses durian itu bisa hadir disini untuk dijual. Mereka mengalami proses yang tidak sebentar, proses demi proses mereka lakukan sesuai dengan prosedur dan perhitungan-perhitungan yang akurat. Tapi gw cuma seorang pemakan yang cuma bisa ngeritik, mencemooh, mentertawakan, puas karena memenuhi selera. Sebuah karya seni menurut juga hampir mengalami proses yang sama, munculnya ide, ide tersebut dikembangkan, dengan segala kemampuan kita berusaha menjadikan karya tersebut rampung, dibantu dengan berbagai referensi dan masukan-masukan. Setelah jadi.....nah disinilah banyak timbul pemakan-pemakan durian kayak gw. Namun karya bisa diberi masukan, atau mengalami perubahan, demikian juga duiran, ternyata dibeberapa kultur, durian yang tidak bisa dinikmati alias gak enak dimulut, itu bisa dijadikan bentuk-bentuk yang lain....seperti tempoyak, lempok kolak dan sayur....... gw belajar satu hal, dan sekarang mencoba untuk mengerti, seburuk apapun karya (selera) tetaplah karya yang dilakukan dengan proses, gagasan ide, sentuhan, perhitungan dan tentunya spirit dari yang berkarya........Jadi intinya gw mau mencoba mengahargai karya apapun dengan penuh kesadaran

Wednesday, March 22, 2006

takdir dan nasib

Seorang kawan lama (sekampung) bertanya kepada saya, "den, tau gak apa bedanya nasib dan takdir?" gw jawab aja dengan kepolosan gw, "kalo nasib bisa berubah, tapi kalo takdir gak bisa..." temen gw cuma senyum sambil menghabiskan rokok yang tinggal dua kali isapan. Trus dia langsung ke pokok permasalahan, "nah den, yang namanya takdir itu di tentukan oleh, pertama Tuhan dan yang kedua adalah orang tua kita sendiri." sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, gw langsung mengerutkan dahi tanda bingung. "kok orang tua kita ikut2an nentuin takdir? "lah iya dong....." jawabnya dengan semangat. "coba sekarang kau liat, kau lahir di Indonesia, dari keluarga Rhangie, yang kebetulan bersuku dayak-china. Nah kau gak pernah tau apa yang di kasih Tuhan ke kau, sehingga kau harus menerima kewarga negaraan indonesia bersuku dayak-cina dari keluarga rhangie. Itulah takdir den..." jawabnya dengan serius sambil menaroh rokok di asbak.....sementara gw cuma mangut2 sok ngerti aja. "Nah trus orang tua kita ngapain?". Temen gw kangsung ngejawab "Orang tua kita yang ngasih nama......itu juga namanya takdir.....kau lahir dengan nama denny, bukan kau yang nentuin kau mau nama apaan."
Hmm....gitu ya...... Dari obrolan tadi gw udah tau sedikit (kulitnya aja) tentang takdir, dan gw juga tau apa yang namanya nasib. Trus kita cuma ngakak......soalnya diantara gw ama dia, yah lahir dengan keadaan keluarga sederhana, pas-pasan, hidup apa adanya, dan keluarga yah lumayan berantakan saat kita sedang bertumbuh hahahaahahahahahahah.......ternyata itu takdir gw lahir di dunia ini......
sementara tugas gw sekarang menjawab yang namanya "nasib......"